Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Di Antara Jeda Jarak dan Perasaan

Maya menatapi layar ponselnya dengan tatapan mata yang sendu. Pada layar ponselnya, Maya menatapi profil WhatsApp seorang cowok yang akhir-akhir ini tidak dia ketahui bagaimana keadaan dirinya di sana. Hatinya yang penuh semangat dulu kini terasa terhimpit oleh gelapnya awan konflik yang menggelayut di antara dirinya dengan seorang cowok yang dicintainya, Rizal. Awalnya, semuanya begitu indah. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan saling merajut mimpi dan keindahan itu berlangsung singkat. Namun, kini, semuanya telah berubah. Video call yang biasanya jadi cahaya harapan menjelang tidur, tiba-tiba lenyap. Pesan singkat yang biasanya mengalir mulus seperti air, kini menguap menjadi kabut kebisuan. Maya merasa tenggelam dalam kebingungan. Mengapa Rizal tiba-tiba seperti menjauh? Semua itu berawal dari rasa tak nyaman Rizal yang tumbuh. Rasa itu mendorongnya untuk mengutarakan ketidakpuasannya pada Maya. Maya pun tak ingin berdiam diri. Ia mencoba untuk memperbaiki segalanya, tanpa menyadari...

Petualangan Garnetta

Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana kita bisa memanjakan diri untuk bangun lebih siang dari hari yang biasanya. Namun, tidak berlaku bagi kedua orang tua Garnetta dengan Andrea, menurut dia, hari Minggu dikeluarganya adalah hari untuk mengerjakan sesuatu yang menguras tenaga, seperti saat sekarang ini. Suara palu yang beradu dengan paku membuat Garnetta harus menutup telinganya menggunakan bantal guling. Ini masih terlalu pagi untuk mendengar suara orang menukang - nukang di pagi Minggunya, dia masih ingin tidur dengan nyenyak lalu terbangun jam sepuluh pagi. Tetapi harapannya tidak demikian, selain suara palu yang membisingkan telinga, dia harus memaksakan diri untuk bangun karena suara teriakan mama juga menggemakan seisi rumah. "Garnetta! Bangun nak, sudah jam 12 siang belum juga bangun. Kalau enggak bangun juga, uang jajan kamu selama seminggu tidak mama beri." teriaknya dengan suara lantang. Lagi - lagi peringatan itu, Garnetta sudah bosan mendengarnya, tetapi kenya...

DOI

  Emoticon flat itu selalu mengingatkanku kepada seorang cowok tinggi yang memiliki tampang biasa saja dan bisa dibilang bukan tipe kebanyakan idamannya para cewek. Aku sedikit heran dengan diriku sendiri, entah mengapa lelaki bertampang biasa itu mampu mencuri hatiku yang lembut ini. Namun, ada satu hal yang bikin aku jadi menaruh rasa sama si cowok bertampang datar itu. Dia itu terlalu baik, bahkan hampir ke semua cewek yang pernah menjadi temannya. Tidak ada yang salah dengan sikap baiknya itu, hanya saja beberapa perempuan selain diriku juga pernah menaruh rasa dengannya yaitu sahabatku sendiri, dan aku merasa risih dengan hal itu. Beberapa hari belakangan ini aku memikirkan dia, ya dia, siapa lagi kalau bukan si cowok bertampang datar itu. Kami  menghabiskan waktu bersama layaknya seorang teman di kelas, tetapi aku selalu menganggapnya lebih. Aku jadi berpikiran jika dia juga menyukai diriku. Malam sebelum tidur, aku sedikit berangan-angan jika kami bersama, mungkin kita ...