Langsung ke konten utama

Di Antara Jeda Jarak dan Perasaan

Maya menatapi layar ponselnya dengan tatapan mata yang sendu. Pada layar ponselnya, Maya menatapi profil WhatsApp seorang cowok yang akhir-akhir ini tidak dia ketahui bagaimana keadaan dirinya di sana. Hatinya yang penuh semangat dulu kini terasa terhimpit oleh gelapnya awan konflik yang menggelayut di antara dirinya dengan seorang cowok yang dicintainya, Rizal. Awalnya, semuanya begitu indah. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan saling merajut mimpi dan keindahan itu berlangsung singkat. Namun, kini, semuanya telah berubah.

Video call yang biasanya jadi cahaya harapan menjelang tidur, tiba-tiba lenyap. Pesan singkat yang biasanya mengalir mulus seperti air, kini menguap menjadi kabut kebisuan. Maya merasa tenggelam dalam kebingungan. Mengapa Rizal tiba-tiba seperti menjauh? Semua itu berawal dari rasa tak nyaman Rizal yang tumbuh. Rasa itu mendorongnya untuk mengutarakan ketidakpuasannya pada Maya.

Maya pun tak ingin berdiam diri. Ia mencoba untuk memperbaiki segalanya, tanpa menyadari bahwa usahanya justru membuat semuanya semakin rumit. Rizal merasa diabaikan, sementara Maya merasa diberikan harapan palsu. Keduanya saling merasakan keretakan di hati masing-masing, namun tak satupun dari mereka yang tahu bagaimana caranya melemparkan jembatan damai.

Minggu demi minggu berlalu, hingga Maya merasa perlu mengambil tindakan tegas. Dia telah mencoba minta maaf berkali-kali, namun Rizal masih belum rela memaafkannya. Rencana bertemu mereka seolah menjadi garis akhir yang menghentakkan realitas ke wajah Maya. Jarak yang memisahkan mereka sebelumnya seperti menjadi lambang penderitaan hati Maya.

Rizal dan Maya, dua hati yang terhubung melalui benang-benang cinta, akhirnya bersua. Namun, kebahagiaan reuni itu tak berlangsung lama. Maya merasa seperti berbicara dengan pria asing yang tak lagi memahami hatinya. Rizal pun tampak terlalu terjebak dalam cengkeraman ego untuk mendengarkan rasa sakit yang Maya rasakan.

Tiba-tiba, keputusan yang terasa mustahil diambil menjadi jelas baginya. Maya tahu bahwa ini bukan lagi tentang "kita". Ini tentang dirinya dan apa yang ia butuhkan untuk meraih kedamaian. Maya pun mengambil napas dalam-dalam, lalu ia menggenggam tangan Rizal dengan lembut. Dia tahu inilah saatnya.

"Dengar, Rizal," Maya berkata dengan suara yang getarannya mencerminkan kekuatannya. "Aku tahu kita mencoba. Tapi perasaan kita tak cukup untuk melawan jarak dan ketidakpastian. Aku merasa terluka dan lelah. Aku ingin kita baik-baik saja, masing-masing menemukan jalan kita sendiri."

Rizal menatap Maya dengan perasaan campur aduk. Ada keheningan yang memisahkan mereka, seperti jarak yang tak terlampaui dalam hubungan mereka. Akhirnya, Rizal mengangguk perlahan, seperti mengerti apa yang perlu terjadi.

Begitulah, di antara pepohonan yang meranggas pada senja hari, Maya dan Rizal memutuskan untuk melepaskan tangan satu sama lain. Keduanya menyadari bahwa membiarkan pergi adalah tindakan paling baik yang bisa mereka lakukan.

Kehidupan terus bergerak maju. Meskipun ada luka yang perlu sembuh, Maya merasa beban di dadanya akhirnya berkurang. Mungkin cinta tak selalu bertahan selamanya, tetapi pengalaman itu memberinya pelajaran berharga tentang bagaimana menghargai dirinya sendiri dan menjaga hatinya tetap utuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terbang dengan Pelikan: Sebuah Perjalanan Impian yang Berakhir Tragis

Disuatu pagi yang cerah seekor ikan tongkol kecil berenang menuju permukaan air untuk melihat dunia luar selain dunia air, yaitu dunia udara. Ikan tongkol kecil itu selalu takjub jika sudah menatap keindahan dunia di atas sana karena matahari bersinar begitu cerah dan burung-burung terbang bebas di angkasa. Ada satu hal yang membuat ikan tongkol kecil begitu penasaran, yaitu bagaimana rasanya terbang bebas di angkasa seperti burung-burung lainnya. Pasti sangat menyenangkan bisa terbang bebas di udara layaknya burung-burung tersebut. Dengan rasa penasaran itulah, ikan tongkol kecil mendatangi Ibunya untuk bertanya bagaimana caranya agar dia bisa terbang bebas di udara selayaknya burung-burung yang terbang bebas di angkasa.  “Ibu, bisakah Ibu beritahu kepadaku, bagaimana caranya kita bisa terbang di udara seperti burung-burung itu Ibu?” Tanya Ikan Tongkol kecil seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Matanya menatap takjub kepada burung-burung Camar yang terbang bebas di atas sana. Se...

Terkadang Brengsek, Kadang Sayang: Chat yang Memulihkan Hati

Malam minggu kali ini gue nikmati dengan menonton sebuah drakor sambil menikmati keripik bawang yang baru saja gue beli di mini market terdekat. Drakor yang sedang gue tonton sudah setengah jam berjalan, lalu tiba-tiba sebuah pesan dari nomor kontak yang sama sekali tidak gue simpan memenuhi papan notif di hp gue. Dahi gue berkerut ketika melihat nomor asing itu, hati ini bertanya-tanya donk, siapakah gerangan orang ini? Dan anehnya lagi dia ngasih gue chat yang banyak diwaktu yang bersamaan. Gue menjilati ujung-ujung jari yang ditaburi oleh bumbu keripik yang sedang gue nikmati, lalu segera membuka pesan dari nomor asing yang sama sekali tidak pernah gue simpan. Sebelah alis gue terangkat, dalam hati gue bergumam 'Dasar Anjing'. "Assalamualaikum, Dwi. Gimana kabarnya?" "Alhamdulillah gue sehat-sehat saja di sini." "Ngomong-ngomong, lo lagi ngapain?" Bibir gue mengerucut disaat melihat tiga bubble chat yang gue terima. Mood gue jadi rusak karena or...