Malam minggu kali ini gue nikmati dengan menonton sebuah drakor sambil menikmati keripik bawang yang baru saja gue beli di mini market terdekat. Drakor yang sedang gue tonton sudah setengah jam berjalan, lalu tiba-tiba sebuah pesan dari nomor kontak yang sama sekali tidak gue simpan memenuhi papan notif di hp gue. Dahi gue berkerut ketika melihat nomor asing itu, hati ini bertanya-tanya donk, siapakah gerangan orang ini? Dan anehnya lagi dia ngasih gue chat yang banyak diwaktu yang bersamaan.
Gue menjilati ujung-ujung jari yang ditaburi oleh bumbu keripik yang sedang gue nikmati, lalu segera membuka pesan dari nomor asing yang sama sekali tidak pernah gue simpan. Sebelah alis gue terangkat, dalam hati gue bergumam 'Dasar Anjing'.
"Assalamualaikum, Dwi. Gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah gue sehat-sehat saja di sini."
"Ngomong-ngomong, lo lagi ngapain?"
Bibir gue mengerucut disaat melihat tiga bubble chat yang gue terima. Mood gue jadi rusak karena orang yang jelas-jelas menghilang begitu saja seperti iblis kemudian datang menyapa tanpa ada rasa bersalahnya sama sekali.
Gue tertawa kecil, "Ini si brengsek tiba-tiba ngechat lagi, mau apa si? Kita udah berakhir tolol." Balas gue kepada orang yang berada di sebrang sana.
Untung saja my heart sama sekali tidak tergoyahkan pada saat orang ini kembali lagi. Entah mengapa kenangan-kenangan yang gue lewati bersama orang ini terasa begitu menjijikkan dan terlihat seperti gimmick yang gue dan dia perankan sebulan yang lalu bersama opet satu ini.
"Astaghfirullah, Dwi, kok ngomong gitu. Baru beberapa minggu gue enggak ada ngabari lo dan seketika lo berubah jadi orang lain? Lo bukan seperti Dwi yang gue kenal saat kita bersama."
Bukannya menimbulkan rasa galau, entah mengapa hasrat ini begitu bersemangat membalas chat itu, sepertinya inilah saatnya bagi gue untuk melampiaskan rasa kekesalan yang gue rasakan karena opet satu ini diam dan menghilang beberapa minggu yang lalu.
"Halah, Dwi yang lo kenal udah enggak ada. Sekarang lo ngapain chat-chat gue brengsek. Lo tiba-tiba ngasih kabar lagi setelah berminggu-minggu lo ngilang. Oh, apa mungkin lo malah digosting sama cewek baru lo kan? Udahlah ngaku aja, dan malah berharap bisa deketin gue lagi? Enggak semudah itu bangke." Balasku kepada cowok brengsek yang sangat gue benci itu. Seandainya orang ini berada dekat dari sini, mungkin sudah gue samperin dan kalau bisa gue hancurin aja badannya. Gue beneran muak sama manusia yang tidak punya hati ini.
"Gue akui gue salah, karena ngilang tanpa ngasih kabar sama lo. Tapi, ada beberapa hal yang bikin gue harus menghilang dari lo saat itu. Dan gue berharap lo mau denger apa yang ingin gue sampaikan."
Gue berdecak, ini orang benar-benar bikin gue galau juga sih cuman dua hari doank, anehnya gue malah nge galauin orang yang haram gue galaukan. Tapi yaudah deh, gue penasaran juga alasan apa yang bikin opet satu ini bikin gue jadi feeling lonely sehingga bikin gue malah jadi lost interest sama ini orang.
"Lo tau sendirikan? Hp gue enggak sebaik punya lo, dan lo juga tau batrenya bisa habis mendadak gitu aja. Makanya gue enggak ada ngabarin lo."
"Halah, alasan doank lo kan, gue liat ini juga pake nomor baru lo chat gue. Kenapa enggak pake nomor yang gue simpan?"
"Jelas-jelas nomor gue lo blok."
"Enggak ada gue blok."
"Kalau emang enggak lo blok, terus kenapa nomor lo enggak ada keterangan terakhir dilihatnya? Foto profil lo juga hilang."
"Supaya lo nge chat gue anjing. Makanya gue bikin gitu biar otak cerdas lo itu dipake dan hati nurani lo itu difungsikan, lo punya cewek tapi malah jarang dikasih kabar, makanya gue bikin gitu."
"Ya, jelas lah anjing gue jadi bertanya-tanya. Dan harapan gue dengan nomor ini lo bakalan bales chat gue."
"Terus apa alasan lo sekarang tiba-tiba chat gue lagi?"
"Mau ngelurusin aja, gue udah beli hp baru. Video call yuk, gue kangen so much sama lo, Dwi."
"Enggak, gue males sama sikap lo. Gue udah enggak cinta sama lo, selama gue bucin lo bikin gue feeling lonely mulu."
"Itu karena gue nyari duit buat biar bisa beli hp, lagian ini juga demi lo Dwi."
"Enggak tau lah, gue ngambek. Lo enggak ada effortnya ngabarin gue dengan pinjem hp adek lo kek."
"Mana bisa tolol, nomor lo aja gue kagak hapal."
Kalau dipikir-pikir bener juga sih sama yang apa dia jelasin. Tapi, semenjak dia enggak ada ngabarin kabar dia sama gue, hari-hari gue jadi membosankan karena orang ini ngilang gitu aja. Mana sampe berminggu-minggu lagi, ya jelas lah gue jadi lost interest sama ini orang. Dan setelah dia ngasih tau apa yang sebenarnya yang terjadi sepertinya sedikit egois juga.
"Lo udah punya cewek baru kan?"
"Kagak. Cewek gue cuman lo doank."
"Buktinya apa?"
"Vc sekarang juga, dan kasih izin gue buat share screen isi hp gue. Lo liat sendiri apakah asumsi lo itu beneran atau cuman pendapat lo aja."
"Jujur, sejak lo ngilang gue jadi enggak ada perasaan sama lo."
"Serius itu ayang? Beneran kamu enggak ada rasa apa-apa?"
"Jangan panggil gue ayang, mulai sekarang gue bukan ayang lo lagi."
Bad mood banget jadinya. Air mata gue ngalir gitu aja tanpa gue sadari, dia enggak tau aja gimana kangennya gue disaat dia sama sekali enggak ada kabar sama sekali. Gue bahkan ngerasa dia udah nemukan cewek lain yang tentunya lebih baik dari gue. Gue narok hp itu di atas ranjang, dan enggak pengen lanjutin percakapan itu. Semakin gue seka air mata ini, malah semakin banyak yang ngalir. Hp gue berbunyi, dia nelpon gue. Sebenarnya gue pengen matiin itu telpon, tapi jari gue malah reflek ngangkat telfon dari dia.
"Dwi.... Sini liat gue dulu."
"Enggak mau. Gue enggak mau liat wajah lo, gue udah ndak ada rasa lagi."
"Gue kangen sama lo, Dwi. Sini ya, liat aku bentar." Akhirnya gue memutuskan untuk liatin wajah gue ke layar. Seketika dia tertawa kecil ngelihat wajah gue yang menangis di depan dia.
"Ketawa lo?"
"Iya-iya, maafin gue ya. Sekarang hp gue udah layak buat kita telfonan. Sumpah gue kangen banget sama lo. Entar kalau lo pulang kampung bilang ya, kita ketemuan terus habisin waktu berdua."
"Engga, gue udah enggak ada rasa sama lo lagi."
Dia menggeleng, "Enggak, lo sayang banget sama gue. Buktinya lo malah nangis, dan jujur pasti lo kangen berat sama gue kan."
Dia nge share layarnya ke gue, "Sekarang lo liat sendiri, ada enggak gue chat cewek lain? Bahkan pesan yang gue sembunyikan aja kagak ada."
"Kalau emang gitu, kenapa lo bisa tau nomor gue? Bukannya lo enggak hapal?"
"Semua kontak yang gue simpen juga ke save ke email, makanya pas gue masukin email gue semua kontaknya ke sinkron. Udah ya, marahnya jangan lama-lama ngambek boleh tapi marahnya jangan lama-lama, gue enggak sanggup juga berminggu-minggu enggak dengerin suara lo, enggak liat wajah manis dari lo."
"Stop ya, jangan diterusin."
"Pengen banget gue meluk lo. Ntar pas kita ketemuan lo puas-puasin deh mukul gue, atau marahin gue sesuka lo. Gue emang pantas dapatin itu karena bikin kesayangan gue jadi feeling lonely berminggu-minggu."
Entah kenapa air mata gue ngalir lagi. Ini tubuh gue enggak bisa diajak kerja sama, gue jadi malu sendiri karena nangis di depan dia. Malam ini gue bener-bener senang banget bisa kembali terhubung sama orang yang kangenin, rasa sesek yang gue rasakan udah terlepas gitu aja dan rasanya begitu melegakan.
"I love you, Ayang."
"Love you."
Komentar
Posting Komentar