Langsung ke konten utama

Terbang dengan Pelikan: Sebuah Perjalanan Impian yang Berakhir Tragis

Disuatu pagi yang cerah seekor ikan tongkol kecil berenang menuju permukaan air untuk melihat dunia luar selain dunia air, yaitu dunia udara. Ikan tongkol kecil itu selalu takjub jika sudah menatap keindahan dunia di atas sana karena matahari bersinar begitu cerah dan burung-burung terbang bebas di angkasa. Ada satu hal yang membuat ikan tongkol kecil begitu penasaran, yaitu bagaimana rasanya terbang bebas di angkasa seperti burung-burung lainnya. Pasti sangat menyenangkan bisa terbang bebas di udara layaknya burung-burung tersebut. Dengan rasa penasaran itulah, ikan tongkol kecil mendatangi Ibunya untuk bertanya bagaimana caranya agar dia bisa terbang bebas di udara selayaknya burung-burung yang terbang bebas di angkasa. 

“Ibu, bisakah Ibu beritahu kepadaku, bagaimana caranya kita bisa terbang di udara seperti burung-burung itu Ibu?” Tanya Ikan Tongkol kecil seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Matanya menatap takjub kepada burung-burung Camar yang terbang bebas di atas sana. Sementara di bawah sini, dia tidak bisa mengepakkan siripnya untuk terbang di awan. Ibu ikan tongkol kaget mendengar pertanyaan si anak, dia menatap wajah sang anak dengan penuh perhatian.

“Dengar anakku, kita adalah ikan. Ikan seperti kita tidak bisa terbang seperti burung, karena ikan berenang di dalam air, bukan terbang di udara.” Jelas Ibu Ikan memberi tahu. Ibu Ikan Tongkol Kecil semakin khawatir mendengar pertanyaan itu. Sebagai seorang Ibu, dia harus menasihati anaknya dengan pelan agar tidak salah mengartikan kebaikannya.

Raut wajah Ikan Tongkol Kecil seketika cemberut mendengar perkataan Ibunya. “Tapi Ibu, aku ingin sekali terbang di udara, sepertinya sangat menyenangkan bisa terbang seperti burung. Aku ingin terbang di udara, sekali saja.”

“Dengar anakku sayang, makhluk hidup sudah ditentukan kodratnya oleh Tuhan, kita sebagai ikan dikodratkan sebagai mahkluk yang bisa berenang di air, tetapi tidak bisa terbang di udara. Karena itu semua sudah di atur oleh Tuhan, nak. Jadi, dengarkan Ibu, jangan melawan kodrat atau sesuatu yang buruk akan menimpamu.” ucap ikan ibu tongkol lagi memberi nasihat.

Wajah ikan tongkol kecil semakin cemberut. Buru-buru Ikan Tongkol Kecil berenang menjauh dari Ibunya karena bukan jawaban itu yang dia inginkan. Ikan Tongkol Kecil kemudian muncul ke permukaan air untuk melihat burung-burung bebas terbang di udara. Terbang di udara adalah impiannya, tetapi dia tidak tahu caranya agar ikan sepertinya bisa terbang di udara. Selagi kita berusaha, tidak ada kata mustahil di dunia ini. Selagi masih ada jalan, Ikan Tongkol Kecil memastikan impiannya itu segera terwujud.

“Hei, ikan kecil, kenapa kau terlihat sedih sekali?” 

Ikan tongkol kecil terkejut dengan kehadiran burung Pelikan yang sedang bertengger di tepi perahu kecil. Burung Pelikan itu terlihat sangat menakutkan, belum lagi tubuhnya yang besar dan kepakan sayapnya yang lebar, membuat mental Ikan Tongkol menjadi menciut. Buru-buru Ikan Tongkol Kecil kabur ke dalam air karena ketakutan dengan burung Pelikan, karena burung Pelikan adalah musuh mereka.

“Hey, jangan kabur ikan kecil. Jangan takut, aku tidak akan memakanmu.” Ujar burung itu lagi. “Naiklah ke permukaan, dan ceritakan kepadaku apa yang membuatmu begitu sedih hari ini?”

Ikan tongkol kecil akhirnya memberanikan dirinya untuk kembali muncul ke permukaan air, lalu kembali menatap seekor burung Pelikan yang sangat besar tengah menatapnya dengan tajam, perasaan takut dan ragu-ragu bercampur aduk, dia tahu kalau yang dihadapinya saat ini adalah musuh bebuyutan mereka.

“Kau tidak akan memangsaku bukan?” Tanyanya kembali memastikan.

Burung Pelikan tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya, agar ikan kecil itu tidak ketakutan dengannya. “Tidak kawan, ikan sepertimu terlalu kecil bagiku, dan tidak membuat perutku kenyang, aku hanya memakan ikan yang besar-besar saja.”

Ikan tongkol kecil menghela nafasnya legah. Kemudian, membuka mulutnya bicara agar rasa gundah yang dia rasa tidak menjadi beban pikiran.  “Hai burung Pelikan, aku ingin terbang bebas di udara sama seperti dirimu. Tetapi, aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa terbang.”

Mendengar cerita ikan tongkol kecil, membuat hati kecil burung Pelikan merasa iba. Tentu saja ikan-ikan tidak bisa terbang, mereka hanya bisa berenang di air. Tiba-tiba terlintas sebuah ide cemerlang di benak burung Pelikan, dengan senyuman yang penuh arti, burung Pelikan membuka bicara.

“Dengar ikan kecil, jangan berkecil hati. Aku bisa mewujudkan keinginanmu kalau kau mau.”

“Benarkah? Bagaimana caranya kau akan membawaku terbang? Aku hanya bisa bernafas jika di dalam air.”

“Kau tidak perlu cemas. Lihat paruhku ini, sangat cukup untuk menampung dirimu dengan air di dalamnya, dan kau bisa bernafas disaat aku membawa mu terbang di udara.”

Ikan tongkol kecil tersenyum sumringah mendengarnya. “Kalau begitu ayo bawa aku terbang sekarang, bawa aku menembus awan putih di atas sana.”

“Baiklah ikan kecil, kelihatannya kau sangat bersemangat sekali.”

Burung Pelikan tersebut lalu membungkukkan tubuhnya kemudian mencelupkan paruhnya ke dalam air, dan sekarang ikan tongkol kecil sudah tertampung di dalam paruhnya. Dengan paruh terbuka, burung Pelikan terbang menuju udara menembus awan putih.

“Hore,,, aku bisa terbang. Aku senang sekali.” Teriaknya dengan gembira. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri melihat betapa indahnya dunia ini.

“Aku adalah ikan yang pertama kali bisa terbang di udara, terima kasih burung Pelikan, berkat kebaikan hatimu akhirnya aku bisa terbang sama seperti burung yang lain.”

“Sekarang, turunkan aku burung Pelikan, aku tidak sabar ingin menceritakan pengalamanku yang berharga ini kepada Ibuku, dia pasti bangga setelah mendengar ceritaku.” Burung Pelikan sama sekali tidak menuruti permintaan ikan tongkol kecil, burung Pelikan itu semakin membawanya tebang entah ke mana. 

“Burung Pelikan kau dengar aku bukan, turunkan aku.”

“Tidak semudah itu ikan kecil, aku tidak akan melepaskanmu. Perutku sudah lapar sekali, dan aku akan memakanmu.” 

“Tidaaaak, jangan makan akuuuu!”

Semuanya sudah terlambat, burung Pelikan yang kelaparan akhirnya menelan ikan tongkol kecil. Dan ikan tongkol kecil tidak bisa kembali kepada ibunya untuk selama-lamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terkadang Brengsek, Kadang Sayang: Chat yang Memulihkan Hati

Malam minggu kali ini gue nikmati dengan menonton sebuah drakor sambil menikmati keripik bawang yang baru saja gue beli di mini market terdekat. Drakor yang sedang gue tonton sudah setengah jam berjalan, lalu tiba-tiba sebuah pesan dari nomor kontak yang sama sekali tidak gue simpan memenuhi papan notif di hp gue. Dahi gue berkerut ketika melihat nomor asing itu, hati ini bertanya-tanya donk, siapakah gerangan orang ini? Dan anehnya lagi dia ngasih gue chat yang banyak diwaktu yang bersamaan. Gue menjilati ujung-ujung jari yang ditaburi oleh bumbu keripik yang sedang gue nikmati, lalu segera membuka pesan dari nomor asing yang sama sekali tidak pernah gue simpan. Sebelah alis gue terangkat, dalam hati gue bergumam 'Dasar Anjing'. "Assalamualaikum, Dwi. Gimana kabarnya?" "Alhamdulillah gue sehat-sehat saja di sini." "Ngomong-ngomong, lo lagi ngapain?" Bibir gue mengerucut disaat melihat tiga bubble chat yang gue terima. Mood gue jadi rusak karena or...

Di Antara Jeda Jarak dan Perasaan

Maya menatapi layar ponselnya dengan tatapan mata yang sendu. Pada layar ponselnya, Maya menatapi profil WhatsApp seorang cowok yang akhir-akhir ini tidak dia ketahui bagaimana keadaan dirinya di sana. Hatinya yang penuh semangat dulu kini terasa terhimpit oleh gelapnya awan konflik yang menggelayut di antara dirinya dengan seorang cowok yang dicintainya, Rizal. Awalnya, semuanya begitu indah. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan saling merajut mimpi dan keindahan itu berlangsung singkat. Namun, kini, semuanya telah berubah. Video call yang biasanya jadi cahaya harapan menjelang tidur, tiba-tiba lenyap. Pesan singkat yang biasanya mengalir mulus seperti air, kini menguap menjadi kabut kebisuan. Maya merasa tenggelam dalam kebingungan. Mengapa Rizal tiba-tiba seperti menjauh? Semua itu berawal dari rasa tak nyaman Rizal yang tumbuh. Rasa itu mendorongnya untuk mengutarakan ketidakpuasannya pada Maya. Maya pun tak ingin berdiam diri. Ia mencoba untuk memperbaiki segalanya, tanpa menyadari...