Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana kita bisa memanjakan diri untuk bangun lebih siang dari hari yang biasanya. Namun, tidak berlaku bagi kedua orang tua Garnetta dengan Andrea, menurut dia, hari Minggu dikeluarganya adalah hari untuk mengerjakan sesuatu yang menguras tenaga, seperti saat sekarang ini.
Suara palu yang beradu dengan paku membuat Garnetta harus menutup telinganya menggunakan bantal guling. Ini masih terlalu pagi untuk mendengar suara orang menukang - nukang di pagi Minggunya, dia masih ingin tidur dengan nyenyak lalu terbangun jam sepuluh pagi. Tetapi harapannya tidak demikian, selain suara palu yang membisingkan telinga, dia harus memaksakan diri untuk bangun karena suara teriakan mama juga menggemakan seisi rumah.
"Garnetta! Bangun nak, sudah jam 12 siang belum juga bangun. Kalau enggak bangun juga, uang jajan kamu selama seminggu tidak mama beri." teriaknya dengan suara lantang. Lagi - lagi peringatan itu, Garnetta sudah bosan mendengarnya, tetapi kenyataannya, perkataan Mama tidak main - main. Mama serius tidak memberinya uang jajan dan itu sungguh menyiksa dirinya. Kalaupun minta sama Papa pastinya bilang "Minta ke Mama". Huh, benar - benar menyebalkan.
Sebelah mata Garnetta terbuka setelah mendengar ocehan Mamanya, dia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 8 pagi. Dia mendengus pelan, selalu saja begini.
"Andrea saja sudah bangun. Kamu jangan kalah sama Kakak sendiri, Garnetta. Lihat betapa rajinnya dia, Mama senang sekali jika kalian suka membantu mama. Sekarang, tugas kamu menjemur pakaian yang sudah dicuci sama Andrea." teriak Mama kembali.
Selain suara teriakan Mama, suara pintu kamarnya juga diketuk sangat keras oleh Andrea. Sungguh, Garnetta sangat benci saat orang - orang selalu memaksakan dirinya untuk melakukan kegiatan yang merugikan dirinya sendiri. "Dek, bangun! Segera jemur pakaian yang sudah Kakak cuci." jelas Andrea lagi.
Garnetta beringsut menuruni kasurnya dengan malas. Suara ketukan pintu kamarnya tidak akan berhenti sebelum dia membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya di depan Mama dan Kakaknya. "Iya, iya, nih, Anett udah bangun nih." ujarnya dengan mulut terbuka lebar seraya merenggangkan badannya. Andrea tersenyum mengejek kepada Garnetta. Kemudian melenggang pergi dari hadapannya.
"Huh, kapan sih, orang - orang akan berhenti menganggu waktuku. Aku juga butuh istirahat. Aku pengen bangun lebih siang lagi dari ini." dengusnya lagi tanpa tahu jika Mama sudah berdiri di hadapannya.
"Anett, kamu masih muda, remaja saja belum. Umur kamu juga masih 7 tahun. Tidak seharusnya ya, kamu berkata begitu. Bangun pagi - pagi itu lebih sehat, nak, daripada bangun kesiangan. Rugi loh, kamu tidak mendapatkan vitamin dari matahari di pagi hari, mendingan kamu jemur kainnya, itu lebih baik daripada bangun kesiangan. Kamu juga masih anak – anak, harus semangat dan juga kuat."
Garnetta menyipitkan matanya mendengar ocehan Mama. Mama selalu bisa membuatnya bergerak untuk melakukan berbagai hal. "Iya, Ma." Garnetta berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, selesainya membasuh muka, dia mengangkat ember yang berisikan cucian yang sudah dibersihkan sama Andrea. Mata Garnetta sedikit memicing disaat matahari pagi menyinari tatapannya yang sedikit mengabur. Dia melirik langit biru dengan awan putih, wah sungguh indah sekali pemandangan pagi ini, sayang sekali, dia pengen tidur lagi selesai menjemur semua pakaian ini. Sungguh, dia masih mengantuk, karena semalam dia habiskan waktu tidurnya dengan menonton serial movie di televisi.
Garnetta menggantung satu per satu kain itu di tali jemuran, dia melakukannya dengan cepat karena kepalanya terasa panas terpapar sinar matahari. Selesai menjemur seluruh pakaian, dia meletakkan ember itu di dekat mesin cuci. Sekujur badannya berkeringat belum lagi rambutnya yang lepek, dia butuh air yang sejuk supaya tubuhnya segar kembali. Garnetta memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Airnya terasa sejuk di badan saat Garnetta mengguyurkan air itu ke seluruh tubuhnya, dia benar - benar terasa fresh sekarang. Selesai mandi dan mengenakan pakaian, Garnetta menuju dapur untuk sarapan pagi. Dia mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi dan berbagai lauk yang sudah dimasak mama pagi ini. Ikan goreng, sayur kangkung, dengan sambalado adalah perpaduan sarapan pagi yang nikmat sekali, rasanya pecah dimulut Garnetta.
Perut Garnetta sudah kenyang, dia lalu berjalan menuju ruangan tengah sambil menghidupkan kipas angin karena pagi ini sangat panas, tak lupa juga dia menghidupkan televisi lalu mencari siaran yang menayangkan kartun atau sebagainya. Kebetulan saat itu ada sebuah tayangan yang menayangkan drama Korea pagi - pagi, dia mengambil posisi nyaman di sofa, lalu duduk dengan santainya. Garnetta tertawa terbahak-bahak melihat tontonannya, dia begitu menikmatinya. Namun, lagi - lagi ketenangan Garnetta terus diganggu disaat Papa memanggilnya.
"Garnetta!" Panggil Papa dari kejahuan. Sekarang apa lagi, tuhan. Bisakah Mama dan Papa berhenti untuk memanggil namanya, dia juga butuh me time.
"Iya, Papa. Ada apa?" sahutnya dengan wajah penuh kekesalan. "Duh, padahal lagi asik - asiknya nonton drakor, malah digangguin lagi." kesal dia lagi.
"Garnetta! Bisa tolongin Papa untuk membeli paku ke warung Pak Anton? Beli seperempat ons saja ya ukuran satu setengah, sisa uangnya buat kamu." Garnetta mendengus. Dia benar - benar sebal, karena lagi - lagi ketenanganya diganggu. "Papa suruh saja kak Andrea, Anett lagi nonton loh."
"Papa minta tolong sama kamu, Anett. Tolong ya, kalau meja ini enggak jadi, bisa kena marah Papa sama Mama kamu." Mau enggak mau, Garnetta harus pergi ke warung Pak Anton untuk membeli paku buat Papa. Dia mengeluarkan sepedanya dan mendekati Papanya untuk meminta sejumlah uang. Setelah menerima uang dengan kecepatan sekencang angin Garnetta mengayuh sepedanya menuju warung Pak Anton.
Warung Pak Anton berjarak seratus meter dari rumahnya. Setibanya di sana, Garnetta harus bersabar menunggu gilirannya. Karena warung Pak Anton sedang banyak pembeli, ada yang membeli papan, ada yang membeli triplek, bahkan ada yang membeli besi. Warung Pak Anton sendiri merupakan warung yang berkedok toko bangunan, karena ukurannya sangat kecil untuk ukuran toko.
"Beli apa dek Anett?" tanya Pak Anton.
"Ini Pak, beli paku ukuran satu setengah, seperempat ons."
"Sebentar ya." Pak Anton lalu menimbang paku yang dibeli oleh Garnetta, setelah itu dia membukusnya dengan kertas buku, lalu dimasukkan ke dalam plastik.
"Berapa Pak?"
"Tujuh ribu dek." Garnetta memberikan selembar uang sepuluh ribu kepada Pak Anton, sisa duitnya masih ada tiga ribu lagi. Dia pun membelanjakan uang itu ke abang - abang penjual pentol yang sedang mangkal dekat warungnya Pak Anton. Selesai membelinya, barulah Garnetta kembali pulang.
***
Sesampainya di rumah, Garnetta memberikan titipan Papanya lalu berlari ke kamar untuk menikmati sendiri pentol yang dia beli. Garnetta merasa puas sekali menikmati pentol yang tengah dia nikmati. Disaat dia sedang terduduk, dia menghayal betapa damainya dunia ini jika hanya ada dia di rumah ini. Tidak ada lagi yang namanya tugas - tugas dari Mama, tida ada lagi ledegan yang menyebalkan dari Kak Andrea, serta dia tidak akan disuruh - suruh oleh Papa. Tetapi mana mungkin itu bisa terjadi.
Garnetta yang merasa mengantuk sehabis melahap pentol, memutuskan untuk tidur di kasur. Dalam hitungan detik, dia sudah terlarut di dalam bunga - bunga tidur. Semuanya menjadi gelap, tidak ada cahaya sedikitpun yang merasuki kegelapan ini. Tetapi saat - saat itu juga, Garnetta bisa mendengarkan suara kicauan burung - burung kecil. Dia setengah berlari menuju suara - suara itu agar bisa keluar dari kegelapan ini. Nafasnya terasa sesak. Dan lihat apa yang dia temukan.
"Waw, tempat apa ini?"
Garnetta begitu mengagumi tempat ini. Dia seperti berada di alam bebas, terdapat bunga - bunga hutan yang sangat cantik, juga hewan - hewan kecil yang menghuni tempat ini. Rerumputan yang hijau menjadi alas tempatnya bediri, disebelah sana Garnetta bisa mendengar suara gemericik air sungai. Dia setengah berlari menuju ke sana sangking penasarannya. Dugaannya benar, dia mendapati hal yang begitu menganggumkan di sini.
"Di sini indah sekali. Sebenarnya aku berada di mana? Apakah ini mimpi?" ujarnya seraya berlari - lari menyusuri hutan yang rindang ini. Seekor kodok kecil melompat ke bahu Garnetta. Garnetta menatapnya sembari melempar senyuman kepada kodok yang sedang menatap kepadanya.
"Hai, kodok kecil, namaku Garnetta. Kalau kamu siapa?" Si kodok hijau itu tidak bisa bicara, tetapi dia paham dengan perkataan Garnetta, dengan lucunya, kodok itu melompat kegirangan sambil tersenyum-senyum.
"Hmmm, bagaimana kalau kamu ku panggil saja dengan nama Jojo. Ya, Jojo nama yang sangat sesuai karena kulitmu yang berwarna hijau." Si kodok itu mengangguk seakan - akan menyetujui nama yang diberikan Garnetta kepadanya.
"Oke, mari kita telusuri hutan ini. Mungkin saja aku menemukan sesuatu yang menyenangkan di sini." Garnetta kemudian berlarian memasuki hutan ini semakin dalam. Bersama Jojo di pundaknya, dia tidak akan merasa kesepian. Sangking indahnya tempat ini, Garnetta tidak memperhatikan langkah kakinya, yang membuatnya harus terjatuh ke dalam jurang yang tidak begitu dalam sebenarnya.
"Aaaaa."
"Aduh." Garnetta terjatuh ke dasar jurang yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu. Lututnya sedikit lecet karena berbenturan dengan kerikil - kerikil kecil. "Jojo, kau baik - baik saja?"
Dia mengkhawatirkan kodok kecil yang ikut terhempas disaat mereka jatuh. Untung saja Jojo baik - baik saja, hanya saja kepalanya sedikit pusing. Tetapi, keadaannya langsung membaik, karena dia adalah kodok kecil yang kuat. "Kemari, kita harus melanjutkan perjalanan kita." Jojo melompat ke bahu Garnetta. Keduanya kembali berjalan untuk mencari apa yang akan mereka temui di hutan ini. Sebuah cahaya redup - redu menarik perhatian Garnetta. Di sana terdapat sebuah goa dengan cahaya api redup - redup. "Wow, kira - kira, apa yang ada di sana."
Menghilangkan rasa penasarannya, Garnetta segera melangkah menuju goa itu. Di depan bibir goa, dia bisa melihat sebuah api unggun dengan sebuah sumur tua di sana. Garnetta yang begitu penasaran memberanikan dirinya untuk mencari tahu, siapa yang telah tinggal di goa ini. Tetapi dia tidak menemukan apa - apa. Garnetta semakin penasaran, sangat mustahil api unggun ini bisa hidup jika tidak ada seseorang menyalakannya.
"Halo, apakah di sini ada orang?" Panggilnya dengan suara yang lantang. Tetapi dia tidak mendapat jawaban. Garnetta berjalan mendekati sumur yang berada dekat dengan api unggun, dilihatnya kedalaman sumur itu, tetapi gelap, dia tidak bisa melihat apapun di sumur itu. Garnetta kemudian melirik lagi keadaan di sekitar goa ini. Lalu dia meraih batu untuk mengukur, sedalam apa sumur ini. Garnetta menjatuhkan batu itu. Dia mencoba menyimak, sedalam apakah sumur ini. Namun, batu yang dia jatuhkan itu tidak kunjung terdengar.
"Halo?" Batu yang dia jatuhkan terdengar juga. Namun, sebuah cahaya biru terpancar dari sumur itu. Seketika langkah laki Garnetta mendadak mundur, lama kelamaan cahaya biru itu mencuat keluar sumur bagaikan asap. Dari asap itu, muncul lah sesosok nenek-nenek yang mengenakan pakaian serba hitam, rambut putih panjang yang berantakan, giginya pun sudah menguning serta keropos. Garnetta ketakutan dengan kemunculan nenek - nenek dari sumur itu. Jojo pun ikutan bersembunyi dari balik rambut Garnetta. Perawakan nenek itu benar - benar menyeramkan.
"Hai anak kecil. Kenapa kau memanggilku?" tanya si Nenek. Garnetta menggeleng. Sama sekali dia tidak ada maksud untuk memanggilnya. Bahkan keberadaan Nenek ini saja dia tidak tahu. "Tidak. Aku tidak pernah memanggilmu."
"Kau memang memanggilku. Apa kau tidak tahu denganku? Aku adalah orang yang hadir untuk seseorang yang ingin terkabulkan keinginannya." Perkataan si Nenek semakin membuatnya bertanya – tanya. Garnetta menyipitkan matanya. Dia sama sekali tidak mengerti maksud si nenek ini.
"Maaf, Nek. Aku tidak mengerti dengan kata - kata mu."
Nenek itu lalu berjalan mendekati Garnetta. "Aku adalah seseorang yang kau cari anak kecil. Aku mendengar semua keinginanmu."
"Memangnya aku meminta apa?" tanyanya dengan suaranya bergetar.
"Bukankah keinginanmu adalah tidak ada lagi yang namanya tugas - tugas dari Ibumu, tidak ada lagi ledegan dari Kakakmu, dan tidak lagi dipanggil oleh Ayahmu. Kau hanya sendirian di rumah ini. Keinginan itulah yang aku dengar, bukan kah begitu?"
"I-iya. Nenek benar sekali. Bagaimana bisa Nenek bisa mendengarnya?"
"Tentu saja bisa. Aku adalah penyihir yang mengabulkan keinginan seseorang, keinginan yang mustahil untuk diwujudkan. Aku bisa mengabulkan permintaan itu gadis kecil. Lalu bagaimana denganmu, apa kau mau?"
Tentu saja Garnetta mengangguk. Sedari dulu keinginan Garnetta, tidak ada satu orang pun yang menganggu hari - harinya. "Tentu saja aku mau."
Nenek itu lalu tersenyum. "Dengan sebuah syarat."
"Apa itu?"
"Aku hanya bisa mengabulkan satu permintaan saja. Tidak lebih. Jadi kuharap, kau tidak akan menyesalinya."
"Baiklah. Permintaan ku hanya satu, nek."
Nenek itu tersenyum kembali. Tiba - tiba kepulan asap kembali terlihat disertai dengan cahaya merah yang menjadikan nenek itu terlihat menyeramkan. Dengan kecepatan sekencang angin, nenek itu lalu menabrak Garnetta hingga membuatnya terkejut.
"Hah!"
Garnetta yang terbaring di kasurnya terbangun dari tidurnya. Dia mencoba untuk duduk demi mengumpulkan nyawanya. Nafasnya terburu, dan keringat mengalir membasahi baju yang dia kenakan. "Untung saja mimpi. Tapi, mimpiku sungguh menyeramkan."
Garnetta terdiam. Hanya suara detikan jam yang terdengar. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, terlihat seberkas sinar mentari sore menembus jendela kamarnya. Dia lalu beringsut menuruni kasur. Lalu mengintip ke luar jendela, dia bisa melihat meja buatan Papanya sudah selesai dibuat, namun dibiarkan begitu saja di pekarangan rumah. Dia lalu melirik jam dinding, ternyata sekarang sudah jam 4 sore.
"Ma, Mama." Panggil Garnetta. Dia berjalan keluar dari kamarnya, televisi masih menyala, sementara di dapur terdengar suara mesin cuci. Dia kemudian duduk di sofa, lalu mematikan televisi itu.
"Sumpah deh, tadi mimpinya aneh banget. Ini beneran enggak sih? Kalau gitu, coba Anett cek dulu deh. Mama, Papa, sama Andrea beneran menghilang enggak?" Garnetta melangkah menuju kamar Andrea, pintu kamarnya tidak terkunci. "Kak Andrea?"
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Dan benar saja, tidak ada Andrea di kamar. Garnetta tersenyum sumringah ia kemudian berjalan menyusuri sekeliling rumah untuk memastikan jika tidak mama dan papanya di rumah.
"Mama, Papa."
Garnetta sudah berkeliling, mulai dari kamar kedua orang tua, dapur, halaman belakang, dan halaman depan, tidak ada mereka."Berarti mimpi tadi memang kenyataan donk. Woah, bukankah ini benar - benar menakjubkan." Garnetta kegirangan. Nenek itu benar - benar mengabulkan keinginannya.
"Baiklah, ini berarti tidak ada lagi yang menganggu ketenanganku. Tidak ada Mama, tidak ada Papa, bahkan kak Andrea. Sekarang mari kita lanjutkan tidur kita, tapi sebelum itu aku harus makan dulu, perutku tiba - tiba lapar lagi." Garnetta berjalan menuju dapur untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Lauk yang dibuat Mama masih ada, nasinya juga. Dia memakan makanan itu tanpa memikirkan hal yang lain, termasuk mimpi itu. Selesai makan, barulah Garnetta membaringkan tubuhnya di kasur lagi.
***
Pagi sekali Garnetta sudah bangun dari tidurnya. Dia berjalan ke luar kamar dengan mata yang masih mengantuk. Tetapi, ini sudah jam 12 siang kenapa dia jadi ngantuk lagi. Dilihatnya keadaan sekitar rumah yang begitu sepi. Tidak ada kegiatan apapun di sini, biasanya Garnetta masih bisa melihat Mama yang sedang melipat pakaian di ruang tengah. Terus juga, dari kamar Andrea dia seharusnya bisa melihat Kakaknya sedang latihan dance di depan cermin, dan Papa,
seharusnya siang - siang begini adalah jadwalnya untuk menghubungi Mama, ditanyain kalau pulang mau dibawain apa. Dan yang bikin dia kaget lagi, seharusnya hari ini dia pergi ke sekolah. Tapi dia tidak merasa khawatir, Garnetta menikmati waktu sendirinya.
"Okeh, karena aku sedang sendirian, aku harus menikmati waktu ini, bagaimana jika mandi dahulu, sambil mendengarkan musik."
Garnetta kemudian mengambil musik box milik Kakaknya, lalu menyetel sebuah lagu Korea yang berjudulkan Next Level dari Aespa. Dia membawa musik itu ke kamar mandi lalu ditempatkannya di tempat yang tinggi. Garnetta bersenang - senang di dalam kamar mandi, dia mandi busa dan tertawa ria.
Sehabis mandi, dia kelaparan, dia melihat sambal yang tersisa dibalik tudung saji. Sambalnya masih ada, hanya saja sudah basi. Garnetta tidak bisa memasak, tetapi dia tidak akan menyerah. Dia akan membuat makanan yang bisa dibuat sendiri. Roti tawar yang diolesi dengan Nutella, kemudian segelas susu segar. Lumayanlah, bisa menyumpal perutnya yang kelaparan.
Sehabis makan, Garnetta berjalan menuju pekarangan rumahnya, di sana ada kotak pasir tempat dia selalu bermain dengan Andrea. Walaupun kakaknya sudah Smp, tetapi Andrea tidak merasa malu bermain bersamanya. Dia menikmati permainan pasir itu sendirian, tanpa ditemani Kak Andrea yang selalu menemani.
Tiba - tiba langit yang awalnya cerah menjadi gelap, air hujan pun turun tanpa permisi dengan deras. Buru - buru Garnetta berlari memasuki rumahnya. Hujan deras ini membuat suasana semakin temaram dan sunyi tanpa siapapun. Sedangkan waktu baru saja menunjukkan pukul dua siang. Mau tak mau, dia harus berhenti dari kegiatannya. Garnetta terduduk di sofa sambil menekuk kakinya ke dada. Dia mendengus pelan. Dia merasa kesepian di rumah ini.
"Mama, Papa, Kakak. Anett kangen."
Suara petir tiba - tiba menyambar. Garnetta yang ketakutan hanya bisa bersembunyi di balik sofa. Kalau ada Mama, pastinya di peluk. Kenangannya bersama Mama, Papa, dan kak Andrea terlintas di benaknya, tanpa dia sadari air matanya mengalir begitu saja. "Aku mau kalian kembali. Aku tidak ingin kehilangan kalian."
Tuktuktuk,,,
Sebuah suara menyadarkan Garnetta dari tangisannya. Dia berhenti menangis karena suara itu semakin lama semakin jelas. Dia kemudian turun dari sofa dan mencari darimana asal suara itu. Ternyata suara berisik itu berasal dari luar jendela, ada sesosok makhluk yang melompat - lompat ke arah jendelanya. Garnetta memberanikan dirinya untuk melihat dari dekat, karena bayangannya tertutup oleh embun hujan. Garnetta membukakan jendela itu, disaat sosoknya semakin jelas dia menyadari sesuatu jika dia adalah kodok hijau yang dia temui di dalam mimpinya.
"Jojo? Bagaimana bisa kau berada di sini?" Jojo kemudian menguak mengeluarkan suaranya seperti kodok. Dia kemudian melompat ke luar jendela.
"Hey, kenapa kau pergi?"
Garnetta keluar dari rumah melalui jendela untuk mengejar Jojo yang sudah meloncat semakin jauh. Dia tidak peduli lagi dengan butiran - butiran hujan yang menghujami tubuhnya. Jojo si kodok hijaunya akhirnya berhenti di sebuah tempat. Mata Garnetta melihat tempat dia berhenti bersama Jojo, tempat ini sangat persis dengan yang ada di dalam mimpinya.
"Jo, bukankah ini mimpi ku yang itu?" Jojo menguak lagi. Menandakan tebakan Garnetta memang benar.
"Apa kau siap berpetualang bersamaku?" Jojo lagi – lagi menguak, dia lalu melompat ke bahu Garnetta untuk memulai petualangan untuk menjemput keluarga perempuan kecil ini.
"Hal yang pertama kita cari adalah, sebuah sungai. Aku kurang yakin apakah ini jalannya, tetapi aku merasa jika ini memang benar adalah jalannya."
Berbekal dengan mimpi yang pernah dialaminya, Garnetta berjalan menyusuri hutan ini untuk mencari suara air sungai. Karena saat ini sedang hujan deras, tidak menutup kemungkinan dia bisa menemukanya dengan cepat. Dibalik daun itu. Garnetta bisa mendengar suara sungainya. Dia menarih harapan agar semuanya berjalan dengan lancar.
"Akhirnya Jo, kita bisa menemukan sungainya. Selanjutnya, aku harus berlari menyusuri sungai ini, apa kau siap Jo?" Jojo menguak girang. Petualangan yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Garnetta harus menyusuri sungai ini agar bisa terjatuh ke dalam jurang.
"Aku berharap kita akan baik - baik saja. Jo, jika kau takut kau bisa mengcengkram baju ku dengan erat. Karena rasa sakit ini benar - benar nyata, tidak seperti di dalam mimpiku, Jo." Jojo kembali berbunyi mencoba memberi semangat untuk Garnetta agar keluarganya kembali.
"Mari kita berpetualang." Garnetta dan Jojo saling menyemangati satu sama lain. Di bawah hujan yang semakin deras serta temaram, Garnetta berlari memasuki hutan yang terlihat menyeramkan. Dia harus bersiap - siap untuk terjatuh. Kakinya berlari begitu kencang, hingga akhirnya kakinya terpeleset ke dalam jurang.
"Aaa!" Walaupun jurangnya tidak terlalu dalam Garnetta merasa kesakitan karena bergesekan dengan batu - batuan.
"Jo, kau baik - baik saja?" Jojo mengangguk meyakinkan agar Garnetta tidak mengkhawatirkan dirinya. Garnetta melanjutkan petualangannya untuk mencari goa. Dia berjalan mencari cahaya - cahaya redup itu karena di sana terdapat sebuah sumur tua.
"Jo, kita menemukan goanya. Tetapi, tidak ada cahaya di sana." Dia berjalan mendekati goa itu tetapi, setibanya di sana dia sama sekali tidak bisa melihat, goa ini terlalu gelap, dia butuh cahaya.
"Jo, aku butuh pencahayaan agar bisa melihat keadaan goa ini. Tetapi, bagaimana caranya, api unggun di goa ini tidak ada." Jojo turun dari bahu Garnetta,
"Jo, kau mau kemana?" Jojo meloncat - loncat ke dalam goa, tetapi Garnetta tidak dapat mengikutinya. "Jo? Kenapa kau pergi? Kau meninggalkan ku?"
Jojo meninggalkan dia sendiri di mulut goa, dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana. Di dalam kesendirian itu Garnetta kembali menangis. Semua yang pernah ada di dalam hidupnya hilang dan tidak pernah kembali. Garnetta sangat menyesal memiliki keinginan itu, jika saja waktu dapat diputar kembali, dia ingin merubah sikapnya agar disenangi oleh Papa, Mama, dan Kak Andrea. Baginya, mereka adalah segalanya dan tidak tergantikan.
Tiba - tiba sebuah cahaya redup - redup menerangi goa. Mata Garnetta begitu silau melihatnya, cahaya itu bahkan lebih terang dari api unggun di dalam mimpinya. Ternyata yang menerangi goa ini adalah kawanan kunang - kunang, Jojo meminta bantuan kunang - kunang untuk menerangi jalan mereka.
"Hua, Jojo. Aku kira kau meninggalkan ku sendirian." Garnetta menangis terharu melihat Jojo yang telah mencari bantuan dengan kawanan kunang - kunang. Si kodok hijau itu tersenyum lebar. Dia kemudian melompat kembali ke bahu Garnetta.
"Terima kasih, Jojo. Kau adalah teman baikku."
"Sekarang, mari kita tuntaskan perjalanan ini." Garnetta berjalan di depan, lalu diikuti oleh kawanan kunang - kunang di belakangnya. Seharusnya letak sumur itu terlalu jauh, tetapi mereka belum menemukannya sama sekali. Tetapi Garnetta tidak menyerah, dia terus berjalan hingga akhirnya dia menemukan sumur tua itu.
"Aku butuh batu untuk memanggil Nenek itu. Tetapi, apakah bisa aku memanggilnya jika tidak memimpikan keinginan itu?"
"Tapi, Nenek itu pernah bilang, jika dia hanya bisa mengabulkan satu permintaan, tidak lebih." Garnetta mengambil batu untuk dia jatuhkan ke dalam sumur. Namun, bukan suara air yang dia dengar, melainkan suara seperti benda keras yang terdengar.
"Halo, Nek? Aku datang. Bisakah Nenek kembalikan keluargaku?" Garnetta menunggu jawaban dari pertanyaannya, namun tidak jawaban sama sekali oleh si Nenek. Dia ragu jika Nenek itu tidak lagi muncul dari sumur tua ini. Garnetta menoleh kepada kawanan kunang - kunang yang masih setia meneranginya.
"Kawanan kunang - kunang, bisakah kalian sinari sumur ini? Aku ingin melihat apa yang ada di dalamnya?" Kawanan kunang - kunang mengerti, dia mereka lalu memasuki sumur itu agar Garnetta bisa melihat keadaannya.
"Kosong?" Sumur itu kosong, hanya ada bebatuan kecil di dalamnya. "Lalu aku harus bagaimana?" Garnetta menangis terisak - isak di dekat bibir sumur itu. "Mama, Papa, Kak Andrea. Aku merindukan kalian semua, aku menyesali semuanya sekarang. Aku ingin kalian kembali lagi, aku mohon."
Jojo dengan kunang - kunang ikut bersedih melihat Garnetta, dia sudah berjuang sejauh ini. Garnetta terus menangis hingga setetes air matanya jatuh ke dalam sumur. Tetesan air mata Garnetta seketika berubah menjadi cahaya putih, Garnetta berhenti menangis melihat fenomena itu, semakin lama cahaya itu semakin terang sehingga dia tidak mampu untuk melihatnya, dia menutupkan matanya agar tidak menyakiti matanya.
***
Lagu Exo yang berjudul Don’t Go terdengar memekakkan telinga, belum lagi ada suara keributan dari depan rumah, sepertinya suara orang sedang memanaskan motor. Perlahan - lahan, Garnetta terbangun dari tidurnya, dan dia menyadari satu hal.
Tuk, tuk, tuk,
Garnetta mengalihkan pandangannya ke kaca jendela, dia melihat seekor kodok hijauh melompati kaca jendelanya. Garnetta membukakan kaca jendela itu, dan hal yang pertama dia lihat, papanya sedang menghangatkan mesin motor. Senyum di bibir Garnetta seketika mengembang.
"Papa." Papa melirik ke arah Garnetta lalu tersenyum kepadanya. "Papa, Anett rindu Papa."
"Kamu sehat kan nak?" Tanpa menunggu lagi, Garnetta memanjati jendelanya keluar dari kamar, kemudian memeluk Papanya dengan erat. "Papa, Anett sayang sama Papa."
Andrea dan Mama keheranan melihat Garnetta. "Dek, tumben sayang - sayangan, kamu baik - baik aja kan?"
"Huaa, Kak Andrea, Mama." Garnetta lalu memeluk kedua orang tua dengan erat. Rasa rindu begitu membuncah, dan Garnetta berjanji tidak akan memiliki keinginan yang aneh - aneh lagi.
"Anett, Mama jadi sesak loh nak,"
"Anett sayang Mama sama Kak Andrea. Kalian jangan menghilang lagi ya."
"Kamu tuh, yang diam - diam suka ngilang. Tau - taunya di kamar tiduran." ujar Kak Andrea. "Udah donk peluk - peluknya, Kakak mau latihan dance, biar bisa menang di acara tujuh belasan besok."
"Semangat Kakaku."
"Anett, kamu bantuin Mama cuci piring ya."
"Siap Mama, Anett akan selalu ada buat Mama, Papa, dan Kak Andrea."
Komentar
Posting Komentar