Langsung ke konten utama

Mimpi yang Terasa Nyata

Ada beberapa situasi aneh yang kurasakan saat ini, tiba-tiba aku sedang berada di sebuah mini market sambil memegang sebuah keranjang merah. Aku jadi bingung entah mengapa aku memulai hariku dari sini, namun aku akan menjalaninya saja walau hatiku diliputi oleh berbagai pertanyaan-pertannyaan. Aku kemudian berjalan mondar – mandir diantara lorong - lorong rak mini market. Mataku selalu saja melihat ke benda – benda lain. Padahal tujuannya mau membeli es krim. Karena aku tidak ingin membuang – buang waktu, segera ku ambil es krim coklat kacang yang menjadi favoritku dari lemari pendingin, kebetulan juga aku bertemu dengan teman kelasku, namanya Cika, woah benar-benar suatu kebetulan bisa bertemu dengan dia di sini, lagian aku sudah lama sekali tidak bicara dengan dia.

"Hai, Sell. Mau beli es krim juga, ya?" ujarnya menyapaku lebih dahulu. Dia terlihat memilih bebera es krim yang ingin dia beli.

"Iya, Cika. Panas banget hari ini bawaannya jadi pengen makan es krim deh, hehe." ujarku seraya tertawa cengengesan, entah mengapa nada bicara ku sedikit aneh atau karena aku jarang melihatnya jadi sedikit canggung saat akan berinteraksi dengan dirinya.

"Es nya biar Cika aja yang bayarin."

"Eh, serius?"

"Iya, sini mana es nya."

Asik aku dijajanin es krim sama Cika, tumben banget ini anak mau traktirin. Dia kenapa sih, bisa – bisanya gitu, padahal Cika itu enggak terlalu dekat denganku di kelas. Palingan kita hanya sebatas saling sapa saja, enggak lebih. Setelah membayar es krim, dia mengajakku untuk menikmati es krim di sebuah bangku yang tersedia di depan mini market, kita pun saling cerita – cerita  mengenai materi pelajaran hari ini.

"Sell, cepetan habisin es nya, ada hal besar yang akan terjadi setelah ini."

Sebelah alisku terangkat mendengarnya, dia ini mau bilang apa ya, aku tidak memahaminya sama sekali. "Emang apa ya?"

Tiba - tiba, Cika menarik sebelah tanganku, dengan terpaksa aku ikut tertarik bersamanya keluar dari mini market ini. Dia membawaku ke sebuah kerumunan siswa - siswa yang merupakan teman kelas ku, tapi anehnya aku juga melihat Rian, teman sd ku, kok dia bisa berada di sini sih? Jelas – jelas aku sama dia beda sekolah. Dan yang membuat mulutku menganga begitu lebar adalah kehadiran si Daffa. Daffa itu cowok yang aku sukai semenjak Smp, dan sekarang dia mau apa?

Ini benar - benar aneh hatiku bertanya – tanya dengan apa yang aku alami saat sekarang, kita semua berada di sebuah jalan raya yang sepi dari kendaraan yang berlalu lalang. Cika pun meninggalkan ku sendirian di tengah - tengah jalan, sementara si Daffa berjalan menuju ke arahku dengan senyuman. Sebentar, apa yang sedang terjadi kepadaku? Daffa juga mau ngapain mendekati ku?

Semua teman - teman kelasku bersorak sorai. Kebingunganku semakin bertambah disaat Daffa merendahkan posisinya di hadapanku sambil menyodorkan kotak cincin. Ya tuhan, apa ini lamaran? Eh, maksudnya dia mau mengungkapkan perasaannya kepadaku? Jika benar, itu artinya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

"Selly, mau kah kamu menjadi pacarku?"

Ya tuhan, perasaan apa ini. Jantungku semakin tidak terkendali ritmenya. Air mataku seketika menetes, aku begitu terharu jika ternyata perasaanku ini dijabah juga setelah lamanya aku menunggu.

"Iya, Daffa. Aku mau jadi pacar kamu."

Hatiku terasa berbunga - bunga. Aku tidak tau lagi harus berekspresi seperti apa, karena dulu, dia tidak mau menerima perasaanku, namun entah karena apa Daffa  menyatakan perasaannya kepadaku, di depan semua orang lagi. Tetapi ada hal yang sedikit aneh setelah aku mengiyakan ajakannya, tiba – tiba aku terbangun dari tidurku. Mataku terbuka secara tiba – tiba, lalu kusaksikan dahan – dahan pohon melalui jendela kamar yang bergoyang.

"Jadi, ini semua hanya mimpi?"

Aku menghela nafasku panjang, sedikit rasa kekecewaan timbul dala hatiku setelah aku menyadari jika semua yang ku alami ini hanyalah mimpi. Akupun bergegas keluar dari kamar untuk mencabut charger hp yang kucolokkan jam tiga pagi, lalu aku melihat ke arah jam dinding yang menujukkan pukul setengah sebelas siang. Lagi – lagi aku keheranan, aku tidak pernah terbangun setelat ini, pasalnya, aku selalu tebangun pukul sembilan pagi. Tetapi ya mau gimana lagi, aku pun kembali ke kamar untuk memainkan hp ku. Namun, aku kembali menemukan kejanggalan lain disaat aku melihat wallpaper hp ku, kenapa jam di hp ku menunjukkan pukul tujuh pagi?

"Ini mana yang bener sih,"

Kepalaku pusing, rasanya begitu ngilu. Dan nafasku sedikit sesak di tengah kegelisahan itu aku kembali terbangun dari mimpiku. Aku duduk dahulu mencoba untuk menjernihkan pikiran ku, sepertinya aku sedang bermimpi di dalam mimpi barusan. Untuk memastikan semuanya, aku berjalan keluar kamar untuk melepaskan charger hp yang kucolokkan semalam, kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Yah, cuman mimpi. Keinginan ku untuk berpacaran dengan Daffa hanya sebatas mimpi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terbang dengan Pelikan: Sebuah Perjalanan Impian yang Berakhir Tragis

Disuatu pagi yang cerah seekor ikan tongkol kecil berenang menuju permukaan air untuk melihat dunia luar selain dunia air, yaitu dunia udara. Ikan tongkol kecil itu selalu takjub jika sudah menatap keindahan dunia di atas sana karena matahari bersinar begitu cerah dan burung-burung terbang bebas di angkasa. Ada satu hal yang membuat ikan tongkol kecil begitu penasaran, yaitu bagaimana rasanya terbang bebas di angkasa seperti burung-burung lainnya. Pasti sangat menyenangkan bisa terbang bebas di udara layaknya burung-burung tersebut. Dengan rasa penasaran itulah, ikan tongkol kecil mendatangi Ibunya untuk bertanya bagaimana caranya agar dia bisa terbang bebas di udara selayaknya burung-burung yang terbang bebas di angkasa.  “Ibu, bisakah Ibu beritahu kepadaku, bagaimana caranya kita bisa terbang di udara seperti burung-burung itu Ibu?” Tanya Ikan Tongkol kecil seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Matanya menatap takjub kepada burung-burung Camar yang terbang bebas di atas sana. Se...

Terkadang Brengsek, Kadang Sayang: Chat yang Memulihkan Hati

Malam minggu kali ini gue nikmati dengan menonton sebuah drakor sambil menikmati keripik bawang yang baru saja gue beli di mini market terdekat. Drakor yang sedang gue tonton sudah setengah jam berjalan, lalu tiba-tiba sebuah pesan dari nomor kontak yang sama sekali tidak gue simpan memenuhi papan notif di hp gue. Dahi gue berkerut ketika melihat nomor asing itu, hati ini bertanya-tanya donk, siapakah gerangan orang ini? Dan anehnya lagi dia ngasih gue chat yang banyak diwaktu yang bersamaan. Gue menjilati ujung-ujung jari yang ditaburi oleh bumbu keripik yang sedang gue nikmati, lalu segera membuka pesan dari nomor asing yang sama sekali tidak pernah gue simpan. Sebelah alis gue terangkat, dalam hati gue bergumam 'Dasar Anjing'. "Assalamualaikum, Dwi. Gimana kabarnya?" "Alhamdulillah gue sehat-sehat saja di sini." "Ngomong-ngomong, lo lagi ngapain?" Bibir gue mengerucut disaat melihat tiga bubble chat yang gue terima. Mood gue jadi rusak karena or...

Di Antara Jeda Jarak dan Perasaan

Maya menatapi layar ponselnya dengan tatapan mata yang sendu. Pada layar ponselnya, Maya menatapi profil WhatsApp seorang cowok yang akhir-akhir ini tidak dia ketahui bagaimana keadaan dirinya di sana. Hatinya yang penuh semangat dulu kini terasa terhimpit oleh gelapnya awan konflik yang menggelayut di antara dirinya dengan seorang cowok yang dicintainya, Rizal. Awalnya, semuanya begitu indah. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan saling merajut mimpi dan keindahan itu berlangsung singkat. Namun, kini, semuanya telah berubah. Video call yang biasanya jadi cahaya harapan menjelang tidur, tiba-tiba lenyap. Pesan singkat yang biasanya mengalir mulus seperti air, kini menguap menjadi kabut kebisuan. Maya merasa tenggelam dalam kebingungan. Mengapa Rizal tiba-tiba seperti menjauh? Semua itu berawal dari rasa tak nyaman Rizal yang tumbuh. Rasa itu mendorongnya untuk mengutarakan ketidakpuasannya pada Maya. Maya pun tak ingin berdiam diri. Ia mencoba untuk memperbaiki segalanya, tanpa menyadari...